Puluhan Warga Desa Watubonang Terkena Doktrin Kiamat

Diberitakan sebelumnya bahwa ada sejumlah warga yang berasal dari Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo mendadak pergi meninggalkan rumahnya menuju ke sebuah pondok pesantren di Malang, hal ini dikaitkan dengan doktrin kiamat yang menyebar di desa tersebut. Pihak dari Perangkat Desa Watubonang membenarkan kabar tersebut, tercatat dalam kurun waktu 1 bulan, ada 16 kepala keluarga di Desa Watubonag yang pindah secara bergelombang, total ada 52 warga yang terdiri dari 29 laki-laki dan 23 perempuan dimana sembilan diantaranya merupakan anak-anak, dari ke enam belas warga tersebut tercatat empat belas kepala keluarga berasal dari Dusun Krajan dan dua lagi berasal dari Dusun Gulun.

Puluhan Warga Desa Watubonang Terkena Doktrin Kiamat

Akibat doktrin tersebut, sebagian kepala keluarga hingga menjual aset rumah yang dimilikinya, karena bisa bisa dikatakan, kepala keluarga yang menjual rumahnya ini masuk dalam ekonomi menengah kebawah, sedangkan sisanya hanya menjual harta bendanya seperti mobil, motor, hingga hewan ternak.

Menurut perangkat Desa Watubonang, para warga yang pergi tersebut tidak bisa dicegah untuk pergi karena sudah terlanjur percaya dengan doktrin kiamat. Kepergian warga-warga ini juga tidak secara serentak, tetapi secara bergelombang selama kurun waktu 1 bulan.

Kepergian mereka pun bisa dibilang sembunyi-sembunnyi, karena kebanyakan dari kepergian warga ini tidak diketahui oleh tetangga terdekat, sedangkan beberapa ada yang terlacak kepergiannya karena mengurus administrasi saat menjual rumah.

Kejadian ini juga langsung direspon oleh Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, menurut Bupati, kepergian 52 warga ini dikarenakan ada pengaruh dari suatu aliran keagamaan bernama thoriqoh Musa AS, yang mendoktrinisasi warga tersebut terkait kiamat yang akan terjadi.

Karena doktrinisasi tersebut, ke 52 warga tersebut percaya bahwa kiamat akan segera datang sehingga mereka berusaha menyelamatkan diri dengan pergi ke sebuah Pondok Pesantren bernama Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin, sebuah pondok pesantren yang memiliki pengasuh pondok bernama Muhammad Romli, dan berlokasi di Dusun Pulosari, Kecamatan Kasembon, Malang. Nama aliran thoriqoh Musa AS sendiri tidak tercatat di NU sehingga bisa dikatakan aliran ini terindikasi aliran ilegal.

READ :  Wisata Gua Kreo Semarang, Lokasi Alami Para Kera

Terkait aliran thoriqoh Musa AS ini, ajaran-ajaran yang diberikan bisa dibilang tidak masuk akal, seperti contohnya adalah ajaran tentang hari kiamat, dimana penganut aliran ini akan selamat dari kiamat seperti layaknya cerita pada kisah Nabi Nuh yang selamat dari kiamat dengan sebuah bahtera sementara dunia sedang hancur.

Selain itu pula ada ajaran tentang perang besar yang akan terjadi saat Bulan Ramadhan tahun 2019 ini, sehingga para pengikutnya diharuskan untuk membeli pedang yang disediakan pihak pondok seharga 1 juta rupiah. Adapula perintah untuk mengibarkan bendera tauhid didepan rumahnya, dan anak-anak berhak menyebut orang tuanya kafir apabila tidak mengikuti aliran ini. Terkait doktrin kiamat ini, para penganutnya diperintahkan untuk menjual harta benda yang mereka miliki.

Kejadian ini juga mendapat perhatian dari Kementrian Agama setempat, sehingga Kementrian tersebut menerjunkan timnya untuk melakukan pengkajian terkait aliran ini dan doktrin kiamat yang merebak. Dari hasil pengkajian ini diharapkan segera dapat disimpulkan apakah terjadi penyimpangan terhadap aliran ini atau tidak.

Sampai saat ini, disampaikan oleh perwakilan dari Kementrian Agama Ponorogo, Tohari, pihak Kementrian belum mengetahui mengenai kegiatan yang terindikasi menyimpang yang terjadi di lingkungan Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo tersebut. Masalah ini akan segera diselesaikan agar tidak menyebar dan meresahkan warga lainnya di Kabupaten Ponorogo.

Puluhan Warga Desa Watubonang Terkena Doktrin Kiamat | phreeque | 4.5