Konflik Warga Desa Rawa Rengas dan Angkasa Pura II

Pada hari Senin, 11 Maret 2019 lalu sebanyak ratusan warga Desa Rawa Rengas mendatangi Pengadilan Negeri Tangerang Kelas IA Khusus yang berlokasi di Taman Makam Pahlawan, Kota Tangerang. Kedatangan warga tersebut untuk menyampaikan aspirasinya perihal ganti rugi atas pembebasan lahan untuk perbaikan dan pelebaran Bandara Soekarno Hatta.

Konflik Warga Desa Rawa Rengas dan Angkasa Pura II

Berdasarkan informasi yang beredar hingga tiga tahun berjalannya pembangunan landasan pacu di Bandara Soekarno Hatta tersebut, masih ada tiga rukun warga (RW) yang belum mendapatkan ganti rugi sebagaimana hak mereka atas pembebasan lahan untuk membangun landasan pacu yang baru tersebut, adapun ketiga Rukun Warga di Desa Rawa Rengas yang belum mendapatkan ganti rugi adalah RW 18, Rw 16, dan RW 15.

Para warga Desa Rawa Rengas sendiri memberikan ultimatum apabila tuntutan mereka tidak segera direalisasikan maka mereka akan menggelar aksi yang akan mengganggu kegiatan bandara seperti menerbangkan laying-layang di kawasan mereka yang jaraknya memang hanya beberapa meter saja dari landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, mereka akan terus memantau kepastian dan keputusan dari PT. Angkasa Pura dan pihak Pengadilan Negeri Tangerang.

Pembangunan landasan pacu baru di Bandara Soekarno Hatta sendiri menyebabkan beberapa dampak bagi warga sekitar khususnya warga di Desa Rawa Rengas, Kosambi, Kotamadya Tangerang ini, dikarenakan jarang pemukiman warga Desa Rawa Rengas dengan pembangunan landasan pacu Bandara Soekarno Hatta yang cukup dekat.

Efek-efek dari pembangunan landasan pacu tersebut terasa sekali bagi warga Desa Rawa Rengas ini, di saat musim penghujan datang, beberapa rumah warga sudah dipastikan akan menjadi langganan banjir, dengan ketinggian yang berbeda-beda, beberapa warga mengaku ketinggian bisa mencapai sebetis orang dewasa apabila banjir masuk kedalam rumah sedangkan ketinggian bisa mencapai sepinggang orang dewasa apabila di jalanan.

READ :  Menjelajah Wisata Tradisional Bali di Desa Penglipuran

Hal ini tentu saja sangat mengganggu aktifitas warga setempat karena banjir ini. Banjir ini juga pada tahap selanjutnya mengakibatkan munculnya masalah baru yang dirasakan langsung oleh warga Rawa Rengas ini, saat datang banjir maka air selokan akan meluap bercampur dengan tanah pembangunan landasan pacu sehingga berpotensi menimbulkan beberapa penyakit, diantaranya yang umumnya dirasakan warga Desa Rawa Rengas adalah penyakit kulit seperti gatal-gatal, korbannya pun tidak pandang bulu mulai dari orang dewasa hingga anak-anak.

Kegiatan pembangunan landasan pacu baru tersebut menimbulkan keresahan lain, rumah warga Desa Rawa Rengas yang berada cukup dekat dengan lokasi pembangunan mengalami retak-retak dibeberapa bagian dikarenakan kuatnya getaran dari alat berat di pembangunan landasan pacu tersebut, bahkan beberapa warga terpaksa tidak mengunci pintu rumah sebagai upaya antisipasi untuk evakuasi apabila suatu saat rumahnya dirasa akan roboh, disamping itu juga suara bising selama proyek berlangsung yang cukup mengganggu pendengaran.

Pada aksi yang digelar warga Desa Rawa Rengas di depan Pengadilan Negeri Tangerang tersebut, para warga memasang puluhan bendera kuning yang dipasang disekitar area Pengadilan Negeri Tangerang, hal tersebut dilakukan sebagai simbolisasi dukacita atas belum terpenuhinya hak-hak warga Desa Rawa Rengas yang belum dibayarkan ganti ruginya. Berdasarkan informasi, sebenarnya PT.

Angkasa Pura II sudah memberikan dan menitipkan uang ganti rugi tersebut kepada Pengadilan Negeri Tangerang, nominal sebesar 430,35 miliar, sebagaimana tertera pada Undang-Undang nomor 22 tahun 22 mengenai sistem pembayaran tanah bersengketa. Namun entah kenapa hingga sekarang belum ada pembayaran yang dilakukan kepada warga desa Rawa Rengas.

Konflik Warga Desa Rawa Rengas dan Angkasa Pura II | phreeque | 4.5