Dua Desa Di Banjarmasin Dipisahkan Oleh Jembatan Yang Putus

Beberapa waktu yang lalu media sosial sempat dihebohkan dengan perjuangan para siswa sebuah SMP di Banjarmasin yang harus menyebrang sungai untuk sampai ke sekolahnya. Berbagai cara di tempuh mereka untuk menyebrang seperti di gendong oleh orang dewasa atau menggunakan lanting yang dibangun secara swadaya oleh warga setempat. Kejadian tersebut terjadi di Kabupaten Banjar tepatnya di perbatasan antara Desa Artani dan Desa Benua Riam yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang cukup besar dan dalam.

Dua Desa Di Banjarmasin Dipisahkan Oleh Jembatan Yang Putus

Pembuatan lanting sendiri bukan tanpa hambatan dan resiko, dikarenakan keterbatasan daya angkutnya akhirnya tidak semua siswa yang mampu di menaikinya sehingga sebagian besar harus mengarungi arus sungai, resiko lanting sendiri apabila tidak di pelihara dengan baik justru akan beresiko bagi yang menaikinya.

Sehingga dapat dibayangkan betap besar pengorbanan khususnya yang dilakukan para siswa SMP tersebut untuk menuntut ilmu belum lagi mereka seringkali datang ke sekolah dengan kondisi basah kuyup karena harus menerjang arus sungai.

Kondisi ini sudah berlangsung selama beberapa tahun, tepatnya pada tahun 2017, jembatan tersebut awalnya dibangun warga sekitar dari bahan kayu ulin sebagai penghubung antara desa Artani dan Benua Riam, karena hanya itulah salah satu jalur penghubung ke antar desa tersebut, namun dikarenakan bahannya yang memang tidak kokoh, pada tahun 2017 silam jembatan tersebut runtuh karena diterjang banjir.

Setelah kejadian tersebut, pemerintah setempat sempat memperbaiki jembatan dari bahan ulin tersebut, namun dikarenakan perbaikan tidak optimal maka jembatan itu rusak kembali, sehingga sebagai alternatif warga setempat bergotong royong membangun lanting.

Desa Artain dan Desa Benua Riam merupakan salah satu desa terpencil di Kabupaten Banjar, kawasan tersebut masuk dalam kawasan konservasi, statusnya tersebut menjadi Kendala tersendiri terhadap proses perbaikan jembatan tersebut. Dikarenakan statusnya dalam kawasan konservasi maka dinas setempat tidak dapat serta merta mencairkan dana perbaikan dan melakukan perbaikan, ada tahapan-tahapan yang cukup panjang agar perbaikan tersebut dapat direalisasikan.

READ :  Puluhan Warga Desa Watubonang Terkena Doktrin Kiamat

Tahap awal yang perlu dilakukan ada proses pengajuan ijin kepada pengelola tahura setempat dimana selanjutnya apparat desa setempat dapat mengajukan kepada pemerintah kabupaten agar dana perbaikan dapat menggunakan APBD apabila sudah ada proses pengajuan mulai dari tahapan musrenbang di tingkat desa sebelum akhirnya sampai ke tingkat kabupaten.

Namun pada data musrenbang yang tercatat pada data di Dinas PUPR, tidak ada pengajuan dana perbaikan jembatan tersebut selama beberapa tahun ini. Sedanglan sesuai dengan Undang-Undang No.16 tahun 2014 tentang dana desa, dinas setempat dalam kasus ini adalah PUPR dapat masuk dalam penanganan perbaikan jembatan di kawasan penghubung antar desa.

Terkait jumlah dana sendiri menjadi kendala dikarenakan biayanya yang tidak sedikit. Tercatat panjang total jembatan tersebut kurang lebih 150 meter, dimana bagian jembatan yang rusak sepanjang 32 meter. Untuk perbaikan secara darurat dibutuhkan minimal dana seratus jutaan, namun karena sifatnya darurat maka dikhawatirkan tidak akan bertahan lama, sedangkan apabila perbaikan menggunakan ulin maka dibutuhkan dana minimal 550 juta dan itupun tidak mudah karena ulin merupakan salah satu sumber daya alam yang dilindungi.

Apabila ingin menggunakan bahan yang permanen dan kokoh maka dibutuhkan dana antara 175 hingga 350 Miliar tergantung kualitas dan bahan dengan pengerjaan perbaikan sejauh 150 meter. Semoga pemerintah melalui dinas setempat dapat segera memperbaiki jembatan tersebut demi menyelamatkan jiwa anak-anak yang menempuh pendidikannya.

Dua Desa Di Banjarmasin Dipisahkan Oleh Jembatan Yang Putus | phreeque | 4.5