Berikut Masalah Pertanian Di Desa Yang Penting Diketahui

Daerah pedesaan memang lebih cocok menjadi lahan pertanian dibanding perkotaan. Pertanian di desa juga diharapkan mampu menjadi poros penyedia kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat. Namun kini sektor pertanian di desa mulai dilanda beberapa masalah yang perlu segera dilakukan langkah penanganan. Berikut beberapa masalah pertanian di desa yang perlu diketahui.

Berikut Masalah Pertanian Di Desa Yang Penting Diketahui

1. Keterbatasan Akses Lahan        

Keterbatasan akses lahan merupakan masalah utama pertanian di desa. Darah pedesaan kini sedang gencar dilakukan alih fungsi lahan secara besar-besaran. Alih fungsi tersebut diantaranya digunakan untuk perumahan, industri seperti akan dilakukan pembangunan pabrik atau sentra bisnis lain.

Selain itu kini sebagian lahan pertanian di desa juga telah terbentur dengan area hutan lindung. Area hutan lindung tidak dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian. Padahal lahan-lahan tersebut masih sangat produktif untuk bisa ditanami berbagai jenis komoditi pertanian. Perlahan –lahan sektor pertanian di desa mulai tergerus oleh kapitalisme.

2. Terbatasnya Jumlah Penyuluh

Daerah pedesaan umumnya sedikit memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini menyebabkan petani desa masih memerlukan banyak edukasi mendalam tentang perkembangan teknologi serta cara-cara terbaru untuk peningkatan produktivitas pertanian. Tenaga penyuluh bisa melakukan langkah edukasi ini.

Namun masalahnya tenaga penyuluh yang datang ke pedesaan jumlahnya makin sedikit. Tentunya akan berakibat pada makin jarang diadakan penyuluhan dan pendampingan untuk mengedukasi petani di pedesaan. Jika terus dibiarkan, petani akan mengalami penurunan produktivitas karena tidak cukup upaya untuk melakukan pengembangan kemampuan.

3. Pengadaan Sarana Produksi Pertanian

Masalah pertanian di desa tidak jauh dengan keterbatasan pengadaan sarana produksi pertanian. Terdapat sejumlah sarana produksi pertanian yang masih kurang mumpuni yang biasa dipakai oleh petani. Diantaranya seperti ketersediaan bibit unggul, pupuk, teknologi dan lainnya.

  • Petani di desa seringkali mengalami masalah gagal panen karena bibit padi yang kurang berkualitas. Hal ini mengakibatkan tanaman cepat mati karena diserang oleh hama.
  • Terkait pupuk yang tidak terdistribusi dengan tepat. Walaupun telah disubsidi oleh pemerintah, namun penyaluran pupuk tersebut sering tidak tepat sasaran atau macet sehingga tidak sampai ke tangan petani. Selain itu belum lagi sebagian oknum yang malah mencari keuntungan sendiri dengan menimbun pupuk subsidi untuk dijual kembali dengan harga yang lebih mahal
  • Alat pertanian yang digunakan petani di desa masih tradisional. Hal ini dapat menyebabkan masalah di beberapa sektor. Seperti kurangnya produktifitas yang diakibatkan oleh waktu yang kurang efisien, serta cara tanam yang kurang efektif.

4. Keterbatasan Penyediaan Modal

Semua sudah mengetahui bahwa memulai usaha pertanian di desa juga banyak membutuhkan modal. Belum lagi jika kebetulan sedang gagal panen, petani akan berusaha mencari modal pengganti agar bisa dengan cepat menanam pengganti. Pastinya tidak sedikit dana yang dibutuhkan.

Memang telah banyak bantuan pemerintah melalui perbankan yang menyediakan pinjaman untuk para petani. Namun kadang syarat yang diajukan masih memberatkan mereka. Perbankan juga dianggap kurang bisa menyentuh petani agar lebih memilih bank sebagai tempat penyedia modal. Padahal dibanding pinjam rentenir, bank lebih meringankan dalam hal bunga yang harus dibayar.

Kebanyakan untuk urusan modal usaha petani lebih menyukai meminjam kepada rentenir. Rentenir biasa datang langsung ke petani tanpa melalui prosedur khusus. Hal ini lah salah satu yang membuat petani lebih menyukai meminjam dana lewat rentenir ketimbang perbankan. Selain itu melalui rentenir, uang yang didapat lebih cepat cair dan mudah didapat.

5. Sistem Penjualan Hasil Pertanian Yang Merugikan Petani

Sistem penjualan hasil pertanian juga kerap kali menjadi masalah pertanian di desa. Para petani hanya mampu menjual hasil pertaniannya dengan sistem tengkulak. Hal ini sangat merugikan petani. Harga jual yang diberikan petani lebih murah dibanding harga pasaran.

Selain itu tidak ada sistem pembatasan minimal atau maksimal dari harga jual membuat petani kesulitan menentukan harga yang tepat. Petani yang merasa dirugikan dengan hal ini memilih enggan untuk bertani kembali. Alih-alih bertani, mereka lebih memilih beralih profesi seperti menjadi buruh.

Permasalahan hasil pertanian juga terjadi saat waktu panen melimpah untuk komoditi beras, jagung atau kedelai. Harga-harga komoditi tersebut cenderung turun. Hal ini akan turut mempengaruhi besarnya keuntungan yang diperoleh petani. Sebaliknya jika tidak masuk waktu panen, justru beberapa harga komoditi tersebut sedang naik yang juga bisa menimbulkan kerugian bagi petani.

Itulah beberapa masalah pertanian di desa. Pemerintah sudah harus segera untuk membuat langkah penanggulangan dan perbaikan. Pertanian di desa merupakan poros ketahanan pangan negara, untuk itu diperlukan perhatian khusus baik dari pemerintah, negara, serta seluruh masyarakat.

Berikut Masalah Pertanian Di Desa Yang Penting Diketahui | phreeque | 4.5