Bencana Longsor Melanda Desa Tondong Belang

Bencana longsor melanda daerah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis, 7 Maret 2019 lalu. Berdasarkan informasi dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provonsi Nusa Tenggara Timur atau BPBD, Bapak Thomas Bangke, salah satu desa yang berada di Kecamatan Mbeling terisolasi dan tidak dapat diakses alat transportasi apapun akibat longsor tersebut.

Longsor Melanda Desa Tondong Belang

Desa tersebut adalah Desa Tondong Belang. Akibat terputusnya akses transportasi ke Desa Tondong Belang, kendaraan-kendaraan yang akan membawa bantuan logistik tidak dapat menyalurkan bantuan logistik ke desa tersebut dikarenakan longsoran yang menutupi akses jalan sehingga menyulitkan kendaraan untuk lewat.

Oleh karena itu, tim SAR yang dibantu oleh tim dari TNI/POLRI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, Tagana, dan relawan dari masyarakat berjalan kaki untuk menuju ke Desa Tondong Belang yang jaraknya kurang lebih sekitar 2 km.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah sendiri menghargai dan mengapresiasi bantuan dari masyarakat yang berada di Kabupaten Manggarai Barat, yang berperan aktif untuk membantu tim SAR dalam pendistribusian bantuan logistik dengan cara memikulnya hingga masuk ke Desa Tondong Belang.

Akibat kejadian longsor yang melanda Desa Tondong Belang pada 7 Maret lalu, dilaporkan 8 orang meninggal dunia, korban meninggal tersebut adalah seorang ibu dengan dua orang anaknya bernama Maria Ersi (40 tahun), Yosefa Nelti (6 tahun), dan Jelita Menta (13 tahun), lalu ada juga orang tua dengan anaknya yaitu bernama Remigius Sera (28 tahun) dan Fransiska Sera (8 bulan), sedangkan 3 orang korban lainnya bernama Paulinus Salim (61 tahun), Hironimis Rius (52 tahun), dan Leonardus Rifa (13 tahun).

Diduga, kedelapan korban longsor ini sempat terseret banjir terlebih dahulu sebelum akhirnya diketemukan telah meninggal dunia.

READ :  Wisata Gua Kreo Semarang, Lokasi Alami Para Kera

Kedelapan korban longsor di Desa Tondong Belang sudah berhasil ditemukan dan dievakuasi jasadnya oleh tim gabungan bencana alam dari Manggarai Barat pada hari Minggu sore, 10 Maret 2019. Karena semua korban yang sebelumnya dinyatakan hilang dan sudah diketemukan, operasi pencarian yang dilakukan tim SAR semenjak kejadian longsor terjadi, kini sudah resmi dinyatakan ditutup. Penutupan operasi pencarian ini  secara resmi ditutup oleh Kepala Basarnas, Bapak Maumere I Putu Sudayana.

Diberitakan sebelumnya bahwa hujan deras melanda kawasan Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis, 7 Maret 2019 lalu. Akibat curah hujan yang tinggi, mengakibatkan longsor di beberapa lokasi salah satunya yang terparah adalah Desa Tondong Belang.

Longsor juga melanda ruas jalan negara antara Ruteng dan Labuan Bajo, tepatnya di sebuah kampung bernama Roe-Culu, akibat longsor itu sendiri arus transportasi di jalan negara tersebut juga lumpuh. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Bapak Antonius Dergong melaporkan juga, bahwa sejumlah kawasan di kota Labuan Bajo mengalami banjir akibat curah hujan yang tinggi.

Sedangkan longsor juga melanda kawasan di Kampung Leke, Kecamatan Kota Kamba, Flores, dimana satu rumah warga tertimbun longsoran. Akibat putusnya beberapa akses di kawasan Manggarai, membuat pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menuju kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai terpaksa didistribusikan dari Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, pendistribusian sendiri dilakukan dengan menggunakan kapal ferry.

Beberapa akses jalan rusak parah adalah jembatan di beberapa daerah seperti di Kampung Culu, dimana jembatan tersebut putus total dan menyetop pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) dari pangkalan Depo Pertamina Reo. Untuk memulihkan akses transportasi, alat-alat berat sudah diterjunkan ke kawasan terdampak longsor untuk menyingkirkan material-material longsor.

Bencana Longsor Melanda Desa Tondong Belang | phreeque | 4.5